by

Ternyata Rumah Tradisional Nusantara Lebih Tahan Gempa

Menjadi negeri yang berada di jalur Cincin Api Pasifik atau Ring of Fire, dari dahulu Kepulauan Nusantara selalu diintai marabahaya, diantaranya gempa bumi. Tingginya tingkat kerawanan bencana di Indonesia digambarkan oleh Gede Suantika, yang saat itu menjabat menjadi Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Gerakan Tanah, dengan mencubit lengannya dengan jari.

“Setiap jari tangan mewakili suatu lempeng, serta cubitan merepresentasikan arah dorongan. Garis kerutan di kulit mewakili sesar atau patahan yang tercipta di darat, ” katanya dalam artikel bertopik “Siaga di Laut, Bahaya di Bawah Selimut” yang dihimpun dalam Gempa : Kumpulan Artikel Ilmu & Teknologi Majalah TEMPO (2013).

Menurut dia, Indonesia merupakan tempat bertemunya tiga lempeng bumi yang terus-menerus saling mendorong. Makin banyak lempeng, tambahnya, karena itu patahannya makin susah serta beresiko.

“Patahan itu, ujar Gede, adalah sumber gempa. Daya gempa dari patahan memang tidak sebesar gempa yang dibuat tumbukan antarlempeng. Akan tetapi bahayanya tidak dapat dipandang mudah, karena banyak patahan itu ada pas dibawah kota, dibawah rumah-rumah, ” tulis Tempo.

Melawan kondisi semacam itu, sejak dahulu masyarakat Nusantara sudah coba lakukan mitigasi bencana dengan membangun rumah-rumah tradisionil yang tahan gempa.

Memperpendek Tiang-Tiang Penyangga

Salah satunya peristiwa gempa besar yang terjadi adalah di Minahasa pada 1845 yang menyebabkan beberapa ribu rumah rusak. Setelah momen itu penduduk Minahasa mulai bangun rumah dengan perancangan yang meminimalisir rusaknya bila terjadi bencana yang sama.

“Sejak momen itu maka rumah-rumah masyarakat dibuat dengan ukuran kecil, tiang-tiangnya dipendekkan serta diperkecil dan rangka-rangka rumah dibuat sedemikian rupa supaya tidak gampang rubuh, ” catat Syamsidar dalam Arsitektur Tradisionil Daerah Sulawesi Utara (1991).

Periode sebelum tahun 1845, berdasarkan catatan Marwati dalam “Studi Rumah Panggung Tahan Gempa Woloan di Minahasa Manado” (Jurnal Teknosains, Vol. 8 No. 1, Januari 2014) adalah saat rumah-rumah orang Minahasa mempunyai tiang-tiang penyangga yang cukuplah tinggi, yakni pada 3-5 meter.

Sejak semula, yaitu sebelum berlangsung gempa, konstruksi rumah tradisionil Minahasa memiliki bahan kayu serta bambu batangan. Beberapa bahan itu disambungkan dengan skema sambungan pen serta diikat dengan tali ijuk pada usuk dari bambu. Sementara kolong bangunan terbagi dalam 16-18 tiang penyangga dengan ukuran diameter 80-200 cm.

Setelah gempa, tambah Marwati, rumah tradisionil Minahasa tidak alami banyak perubahan, terkecuali panjang tiang-tiang penyangganya yang dikurangi jadi 1, 5-2, 5 meter serta diameter tiang-tiang itu jadi lebih kecil yaitu 30 cm.

“Rumah panggung Wuloan di Minahasa adalah rumah panggung tahan gempa pada semua susunan fondasi, dinding serta balok rangka utama dari kayu besi penuhi prasyarat menjadi konstruksi gempa. Setiap balok sama-sama kait mengait. Dinding dari papan karena itu tidak gampang retak atau pecah, ” tulisnya.

Pengurangan tinggi tiang-tiang penyangga rumah itu, menurut Hokky Situngkir dalam Kode-kode Nusantara : Pelajari Sains Canggih atas Jejak-jejak Kebiasaan di Kepulauan Indonesia (2016), merupakan untuk mengoptimalkan manfaat suspensi hingga rumah tidak gampang rubuh saat ada getaran hebat.

Kejadian itu ia banding juga dengan keadaan rumah-rumah di beberapa kampung tradisionil di Jawa Barat yang jarak pada tanah dengan lantai rumah sangat pendek. Hal seperti ini, selain karena masyarakat Sunda tidak mempunyai budaya memanfaatkan kolong rumah menjadi tempat menaruh cadangan logistik, juga bila dihubungkan dengan gempa bumi adalah untuk menghadapi guncangan.

“Sela antara tanah dan lantai rumah dibuat rendah untuk fungsi suspensi dari rumah supaya tidak goyah serta rubuh saat ada gempa bumi, ” tulisnya.

Kolom Penyangga Tidak Ditanam di Tanah

Kolong rumah yang pendek nyatanya bukan ide permanen bila lihat rumah-rumah tradisionil di Sumatra yang rata-rata mempunyai tiang-tiang penyangga yang tinggi. Dalam membuat rumah, tidak hanya sesuai dengan antisipasi bencana alam, penduduk di Nusantara juga menyesuaikannya dengan kondisi kehidupan sosial masing-masing.

Bila di penduduk Sunda tiang-tiang rumah dibuat rendah karena mereka tidak memiliki budaya menyimpan cadangan logistik di kolong rumah, karena itu di daerah Nias tiang-tiang penyangga dibikin tinggi karena dahulu sering terjadi perang antar-desa.

Peperangan itu, menurut Isnen Fitri serta Basaria Thalarosa dalam “Rumah Tradisionil Nias Saat Gempa Bumi 2005, Studi Kasus : Desa Bawomataluo, Nias Selatan”, menggerakkan masyarakat memagari desa mereka dengan pagar yang rapat serta menjulang tinggi untuk melindungi lokasi dari serangan musuh.

“Tidak ada bentuk umum tehnologi sipil yang ditemukan dalam arsitektur tradisionil (vernakular) di selama Kepulauan Nusantara. Semua berbeda-beda tergantung pada lokalitas kehidupan sosioekologis masyarakat setempat, ” tulis Hokky Situngkir.

Dalam kaitannya dengan ketahanan pada gempa, Isnen Fitri serta Basaria Thalarosa mencatat jika rumah tradisionil Nias di Desa Bawomataluo, Nias Selatan, sebagai objek studi masalah mereka, alami beberapa rusaknya walau tidak separah rumah-rumah moderen yang berada di Gunung Sitoli serta Teluk Dalam.

Mereka menuturkan jika dengan konstruksi rumah tradisionil Nias dibuat dengan memakai material lokal, yaitu kayu yang mutunya dipilih sedemikian rupa hingga memiliki ketahanan yang berumur panjang.

“Seperti perihal tehnik konstruksi rumah Austronesia, tidak menggunakan paku, seutuhnya bertumpu pada skema sambungan pasak, ” tulis mereka.

Tiang-tiang yang menyokong rumah beralaskan batu-batu sebagai pondasi, hingga tidak ditanam didalam tanah. Hal seperti ini ditujukan supaya saat berlangsung guncangan, tiang-tiang dapat lebih fleksibel berjalan dan bergeser.

Akan tetapi waktu berlangsung gempa pada 2005, sesudah mengecek beberapa rumah tradisionil Nias yang alami kerusakan, mereka temukan jika terjadi pergeseran tiang atau kolom rumah dari pondasinya. Hal seperti ini membuat sambungan pasak pada tiang yang satu dengan yang lain alami perenggangan. Diluar itu, sambungan pada tiang susunan bawah yang berupa V dengan tiang-tiang yang lain juga alami pergeseran.

Beberapa perenggangan yang berlangsung pada sambungan itu, berdasar pada amatan mereka, nyatanya terjadi karena umur tiang-tiang penyangga sudah sangat tua, yaitu sudah ada hampir sampai beberapa ratus tahun.

“Bagian sambungan tiang-tiang kayu banyak yang tidak utuh lagi serta lapuk, hingga kontrol seismik pada sambungan hilang, karena itu saat berlangsung gempa, sisi ini merenggang serta punya pengaruh pada susunan lainnya yang bertumpu padanya seperti susunan lantai dan dinding. Ada banyak celah pada dinding serta balok bangunan yang merupakan akibat dari pergeseran tiang-tiang susunan bawah bangunan, ” tambah mereka.

Salah satunya kunci ketahanan rumah tradisionil Nias yang tiang-tiangnya bertumpu pada batu, dalam Pesan dari Wae Rebo : Kelahiran Kembali Arsitektur Nusantara Sebuah Pelajaran dari Masa Lalu untuk Masa Depan (2010) yang disunting oleh Yori Antar, juga ada di banyak tempat di Nusantara serta adalah type konstruksi yang sangat ampuh melawan gempa.

Sambung Ikat

Teknik sambung serta ikat dalam membangun rumah tradisionil hampir berlangsung di beberapa lokasi di Nusantara. Diantaranya pada rumah Baghi, yaitu rumah penduduk Besemah di Pagar Alam, Sumatra Selatan.

Rumah ini, menurut M. Ali Husin dalam “Kearifan Lokal serta Mitigasi Bencana pada Rumah Tradisionil Besemah, Pagar Alam, Sumatra Selatan”, memakai konstruksi sambung ikat serta manfaatkan beberapa bahan bangunan ringan.

Seperti rumah tradisionil Nias, rumah Baghi juga memakai batu menjadi alas tiang yang dimaksud umpak batu. Selain agar gerak tiang jadi lebih fleksibel, alas batu juga berperan membuat perlindungan tiang yang ada di atasnya supaya tidak langsung bersentuhan dengan tanah yang mempunyai kelembapan tinggi hingga bisa mengakibatkan kerusakan tiang itu.

“Semua perincian konstruksi dituntaskan dengan prinsip-prinsip ikatan, tumpuan, pasak, tumpuan berpaut serta sambungan berkait. Untuk pengikat biasanya dipakai rotan serta bambu, atau mungkin dengan tehnik pasak. Bila berlangsung gempa, karena itu susunan rumah akan berjalan dinamis, ” tulis Ali Husin.

Selanjutnya ia menuturkan jika pada rumah Baghi juga ada balok sloof yang berperan untuk meredam supaya pondasi-pondasi pada rumah itu tidak berubah hingga rumah bisa bertahan saat terjadi gempa bumi.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed